CIANJUR.Wartadesa - Di tengah riuh rendah sorak rakyat yang memadati jalanan peringatan Hari Jadi ke-349 dan HUT Kemerdekaan RI ke-81, sebuah peristiwa memukau menyita seluruh perhatian.
Ikon agung Kuda Kosong, yang lazim melangkah tenang dan penuh wibawa, tiba-tiba menghentak, mengamuk dengan semangat yang menggelegar—membuat ribuan penonton terpaku bercampur kagum dan hormat .
Bukan sekadar gelagat hewan biasa, gejolak ini seolah membangkitkan kembali jiwa sejarah yang tersimpan dalam setiap serat tradisi.
Kuda hitam gagah ini, yang dihias kain hijau sakral dan rangkaian bunga tanpa penunggang fana, dipercaya justru tidaklah kosong.
Di atas punggung perkasa itu, diyakini menunggang sosok luhur leluhur, Eyang Suryakancana, yang menyatu dengan denyut nadi tanah Cianjur . Ketenangan yang biasanya memayungi prosesi berubah seketika menjadi energi dahsyat yang mengguncang bumi, seolah warisan masa lalu bangkit menegaskan keagungannya.
Para pengawal yang berpakaian jawara dengan sigap namun penuh hormat tetap memegang kendali, menuntun kekuatan alam dan gaib itu agar tetap dalam jalur kehormatan.
Masyarakat yang menyaksikan tak hanya melihat atraksi, namun merasakan getaran mistis yang membelai kalbu. "Mengamuk" di sini bukanlah keganasan tanpa makna, melainkan luapan keperkasaan yang murni, bukti hidup bahwa tradisi ini bukan benda mati—melainkan napas yang berdenyut kuat, menyuarakan sejarah diplomasi dan ketangguhan leluhur yang tak tergoyahkan.
Peristiwa ini pun menjadi kenangan paling membekas dalam ingatan pesta rakyat: bagaimana sebuah simbol penghormatan bisa memancarkan kedamaian sekaligus kekuatan yang mampu membelah lautan manusia. Sebuah pengingat abadi bahwa di Tatar Cianjur, warisan budaya tak pernah lelah membangkitkan kebanggaan yang tak terlukiskan.
