Cianjur,Wartadesa — Badan Bank Tanah melaksanakan Program Pemberdayaan Masyarakat bagi Subjek Reforma Agraria (RA) di atas Hak Pengelolaan Lahan (HPL) Badan Bank Tanah Kabupaten Cianjur, bekerja sama dengan Yayasan Astha Cita Masykur, pada 9–10 Januari.
Program ini bertujuan meningkatkan kapasitas usaha masyarakat di sektor peternakan sebagai bagian dari implementasi Reforma Agraria yang berorientasi pada penguatan ekonomi lokal dan keberlanjutan.
Pada hari pertama, peserta diberikan Pelatihan Pengelolaan Peternakan dan Praktik Pembuatan Pakan Silase yang dipaparkan secara langsung oleh Satriyo Ardi, S.Pt., Pendiri Garuda Farm Bogor, sebagai narasumber. Pelatihan ini diikuti oleh 65 peserta yang hadir secara aktif dan antusias.
Materi pelatihan mencakup pengelolaan peternakan rakyat, efisiensi pakan, serta praktik langsung pembuatan silase sebagai alternatif pakan ternak yang berkelanjutan. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif selama sesi diskusi dan praktik lapangan.
Selanjutnya di hari kedua, program dilanjutkan dengan studi banding pengelolaan peternakan modern berkelanjutan di Garuda Farm Bogor. Sebanyak 25 peserta mengikuti kegiatan ini dan melakukan observasi langsung terhadap penerapan sistem peternakan terintegrasi, manajemen pakan, serta pengelolaan usaha peternakan berbasis keberlanjutan.
Plt. Kepala Badan Bank Tanah, Hakiki Sudrajat, mengatakan bahwa program pemberdayaan merupakan bagian penting dari pelaksanaan Reforma Agraria agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Reforma Agraria tidak hanya soal legalitas lahan, tetapi juga bagaimana lahan tersebut dapat dimanfaatkan secara produktif. Peningkatan kapasitas masyarakat menjadi kunci untuk mendorong kemandirian ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Hakiki.
Ia menambahkan bahwa Badan Bank Tanah terus mendorong kolaborasi berbagai pihak dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat di wilayah HPL Badan Bank Tanah.
Wakhid Masykur, Perwakilan Yayasan Astha Cita Masykur menyatakan bahwa sinergi ini diharapkan dapat memperkuat keterampilan masyarakat dalam mengelola usaha peternakan secara lebih efektif.
“Kami melihat pemberdayaan masyarakat harus dilakukan secara bertahap dan konsisten. Melalui pelatihan dan studi banding ini, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga pemahaman mengenai pengelolaan usaha peternakan yang lebih terstruktur, efisien, dan berorientasi jangka panjang. Sinergi dengan Badan Bank Tanah diharapkan dapat memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat di wilayah Reforma Agraria” ujar Wakhid.
Sementara itu, Satriyo Ardi, S.Pt., menilai bahwa pemanfaatan teknologi sederhana seperti silase dapat membantu peternak rakyat menekan biaya produksi.
"Dengan teknik manajemen pemeliharaan dan pakan ternak yang tepat, peternakan rakyat dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing sehingga dapat mandiri, berkelanjutan dan menjangkau pasar lebih luas" ujarnya.
Badan Bank Tanah menegaskan bahwa program pemberdayaan masyarakat akan terus dilaksanakan secara bertahap di wilayah HPL Cianjur sebagai bagian dari strategi jangka menengah untuk memperkuat implementasi Reforma Agraria dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.***Ca****
