Menyalakan Harapan dari Pelosok Cianjur Selatan: Kisah Perjuangan dan Kepemimpinan Seorang Pendidik

Warta Desa
Selasa, 20 Oktober 2026, Selasa, Oktober 20, 2026 WAT
Last Updated 2026-10-20T05:38:15Z
Cianjur,Wartadesa - Ketika akses pendidikan masih menjadi persoalan bagi masyarakat di pelosok Cianjur Selatan, seorang pendidik memilih untuk tidak sekadar menyaksikan. Ia bergerak, merintis sekolah, dan mengajak masyarakat membangun harapan bagi generasi muda.

Tidak semua perjuangan seorang guru berlangsung di ruang kelas. Ada kalanya pengabdian menuntut langkah lebih jauh: menyusuri persoalan masyarakat, menghadapi keterbatasan, dan memperjuangkan kesempatan belajar bagi anak-anak yang terancam kehilangan masa depan.

Itulah salah satu potret perjalanan Dr. Jakaria, S.Pd., M.Pd., pendidik yang pernah mendapat penugasan untuk memimpin dan merintis pengembangan SMA Negeri 2 Cibinong, Kabupaten Cianjur, di wilayah Cianjur Selatan.

Pada masa itu, sebagian lulusan SMP menghadapi kesulitan melanjutkan pendidikan karena jarak sekolah menengah yang jauh dan keterbatasan ekonomi. Bagi sebagian keluarga, melanjutkan sekolah bukan perkara sederhana. Ada anak-anak yang akhirnya berhenti belajar, sementara pernikahan usia dini menjadi salah satu persoalan sosial yang dijumpai di masyarakat.

Bagi Dr. Jakaria, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar urusan administrasi atau pembangunan gedung. Pendidikan adalah kesempatan bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan, memperluas pilihan hidup, dan membangun masa depan.

Merintis dari Keterbatasan

Sekitar 2014, bersama tim dan masyarakat setempat, Dr. Jakaria mulai merintis sekolah yang kemudian memperoleh surat keputusan pendirian pada 2015. Pada tahun itu pula, ia mendapat penugasan untuk memimpin SMA Negeri 2 Cibinong.

Perjuangan tersebut tidak berlangsung dalam kondisi ideal. Pada masa awal, kegiatan belajar mengajar harus menumpang di SMP setempat. Ketika ruang kelas digunakan, pembelajaran terkadang berlangsung di selasar sekolah. Guru dan siswa tetap berusaha menjalankan kegiatan belajar meskipun sarana terbatas dan cuaca pegunungan kerap menjadi tantangan.

Dr. Jakaria kemudian memperjuangkan lahan sekolah melalui pengajuan kepada pemerintah provinsi. Upaya itu membuahkan hak pemanfaatan lahan seluas hampir tiga hektare. Masyarakat turut bergotong royong menyiapkan lahan dengan peralatan sederhana, menjadikan pendirian sekolah sebagai cita-cita bersama.

Di sinilah karakter kepemimpinannya mendapat ujian. Ia tidak hanya dituntut mengelola kegiatan sekolah, tetapi juga mencari jalan agar sekolah dapat berkembang. Kepemimpinan tidak berhenti pada instruksi, melainkan diwujudkan melalui kemampuan membangun kepercayaan, menggalang dukungan, dan menggerakkan masyarakat.

Mencari Jalan di Tengah Hambatan

Salah satu pengalaman penting dalam perjuangan tersebut terjadi ketika Dr. Jakaria menghadiri sebuah pertemuan pendidikan yang awalnya ia sangka salah alamat. Dalam forum yang melibatkan sekolah-sekolah unggulan di Jawa Barat dan sekolah internasional itu, ia menyampaikan kondisi nyata sekolah yang sedang dirintisnya.

Ia tidak menawarkan kemegahan fasilitas, melainkan menceritakan kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan. Kisah tersebut membuka komunikasi dengan pihak terkait. Dalam perkembangan berikutnya, dilakukan survei ke lokasi dan sekolah memperoleh dukungan sarana, termasuk 20 unit komputer dan sebuah server, serta dukungan pembangunan fasilitas.

Tantangan lain muncul ketika sekolah membutuhkan koneksi internet untuk pelaksanaan ujian. Karena sinyal sulit diperoleh di kawasan pegunungan, guru, siswa, dan masyarakat mencoba berbagai cara, termasuk memanfaatkan bambu sebagai penyangga perangkat penerima sinyal.

Upaya tersebut akhirnya memungkinkan koneksi digunakan untuk mendukung kegiatan sekolah. Pengalaman ini menggambarkan kreativitas dan gotong royong dalam menghadapi keterbatasan.

Dalam perjalanannya, Dr. Jakaria juga menghadapi penolakan dan perbedaan kepentingan. Ia mengaku pernah mengalami ancaman sehingga persoalan tersebut dilaporkan kepada kepolisian. Meski demikian, perjuangan menghadirkan akses pendidikan tetap menjadi bagian penting dari pengabdiannya.

Kepala Sekolah yang Menggerakkan

Kisah Dr. Jakaria memperlihatkan bahwa kepala sekolah bukan sekadar pemegang jabatan administratif. Ia dituntut mampu membaca kebutuhan, menetapkan prioritas, membangun kolaborasi, dan menjaga agar kepentingan peserta didik tetap menjadi tujuan utama.

Perubahan pendidikan tidak mungkin dikerjakan seorang diri. Guru, tenaga kependidikan, orang tua, masyarakat, dan pemerintah memiliki peran masing-masing. Tugas pemimpin adalah menyatukan berbagai kekuatan tersebut agar bergerak menuju tujuan bersama.

Setelah mengabdi di Cibinong, Dr. Jakaria melanjutkan perjalanan kepemimpinannya di SMA Negeri 1 Mande dan SMA Negeri 1 Ciranjang, sebelum kemudian memimpin SMA Negeri 2 Cianjur. Rangkaian penugasan itu menjadi bagian dari perjalanan profesionalnya dalam dunia pendidikan.

Selain memimpin sekolah, Dr. Jakaria juga merupakan kepala sekolah mitra Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG), Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Universitas Suryakancana. Peran ini berkaitan dengan pengembangan calon guru melalui hubungan antara pembelajaran akademik dan praktik nyata di sekolah.

Pengalaman memimpin dalam situasi penuh keterbatasan memberikan perspektif penting bahwa menjadi guru profesional tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru juga membutuhkan empati, kreativitas, integritas, dan kepekaan terhadap kebutuhan peserta didik.

Pengabdian yang Melampaui Jabatan

Perjuangan merintis SMA Negeri 2 Cibinong menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan Dr. Jakaria. Namun, makna kisah ini tidak hanya terletak pada berdirinya sebuah sekolah, melainkan pada upaya membuka kesempatan pendidikan bagi masyarakat yang sebelumnya menghadapi berbagai hambatan.

Kisah tersebut mengingatkan bahwa pendidikan dapat menjadi salah satu jalan untuk memperluas pilihan hidup generasi muda. Meski dampak sosialnya perlu dinilai melalui data yang memadai, kehadiran sekolah memberi masyarakat akses yang sebelumnya lebih sulit dijangkau.

Pada akhirnya, keberhasilan seorang pendidik tidak hanya diukur dari jabatan yang pernah diemban atau fasilitas yang berhasil diwujudkan. Keberhasilan juga tercermin dari kesempatan yang terbuka bagi anak-anak, tumbuhnya kepercayaan masyarakat, dan semangat belajar yang terus terpelihara.

Dr. Jakaria, S.Pd., M.Pd., menghadirkan pelajaran bahwa kepemimpinan pendidikan berawal dari kepedulian dan dibuktikan melalui tindakan. Sebab, sekolah bukan hanya bangunan tempat belajar, melainkan pintu harapan bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang lebih baik.(DIN)

TrendingMore