CIANJUR, Wartadesa - Salah satu aktivis Cianjur Hendra Malik Mengecam keras terhadap Pemerintah dan pengembang proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di kawasan Gunung Gede Pangrango untuk segera melakukan moratorium total dan pengkajian ulang secara radikal terhadap seluruh aktivitas proyek.
Hal ini dikarenakan pada tahun 2022 menyusul aktivitas seismik baru yang sudah mengguncang wilayah tersebut hingga dinilai telah mengubah konstelasi keamanan geologis secara drastis.
Keselamatan rakyat adalah landasan Hukum Tertinggi, bahwa jangan sampai memaksakan kelanjutan proyek di tengah kondisi tanah yang labil sebagai bentuk pengabaian nyata terhadap keselamatan publik.
Hendra Malik Aktivis Lingkungan Cianjur mengatakan melanjutkan pengeboran dan injeksi fluida di jantung zona sesar aktif pasca-gempa bukan sekadar keputusan bisnis yang berisiko, melainkan sebuah kecerobohan sistematis yang mempertaruhkan nyawa ribuan warga di kaki gunung.
"Kami tidak akan membiarkan Gede Pangrango dijadikan laboratorium bencana demi ambisi energi,"kata Hendra Malik kepada awak Media Rabu 18/02/26
Hendra juga menuturkan ada tiga tuntutan yang harus dilakukan oleh Pemerintah adalah segera Audit Geologis Independen & Terbuka.
"Kami menuntut dibentuknya tim investigasi independen yang melibatkan pakar seismologi dan hidrologi untuk menguji ulang stabilitas struktur batuan. Dokumen Amdal lama dinyatakan kadaluwarsa karena tidak lagi relevan dengan kondisi geomorfologi pasca-gempa. Transparansi Risiko Gempa Induksi (Induced Seismicity)"tuturnya
Pemerintah wajib membuka data kepada publik mengenai potensi keterkaitan antara aktivitas geothermal dengan pemicuan patahan lokal. Rakyat berhak tahu apakah rumah mereka berada di atas ancaman gempa buatan atau tidak. serta Lindungi Menara Air Jawa Barat: Kawasan Gede Pangrango adalah penyangga hidrologis vital.
Lanjut Malik Kerusakan jalur akuifer akibat intervensi mekanis di bawah tanah yang tidak stabil akan menyebabkan krisis air permanen bagi jutaan penduduk di Jawa Barat hingga Jakarta.
"Isi dari Visi Energi yang Beretika, Kami menyatakan dukungan terhadap transisi energi hijau, namun menolak keras jika "energi bersih" tersebut diperoleh dengan cara yang "kotor" secara etika keselamatan."ucapnya
Malik juga mendukung energi terbarukan, tapi tidak dengan cara menimbulkan ruang hidup rakyat dan merusak ekosistem konservasi. Pembangunan harus selaras dengan karakter alam, bukan melawan hukum alam yang sudah jelas memberikan peringatan melalui gempa.
"Perlu diingat juga bahwa Gunung Gede Pangrango punya karakteristik yang berbeda dengan gunung yang lainnya."pungkasnya***Ca***
